Rancang UX Sebelum UI

Saat mengetahui (lewat tulisan atau suara) “pengalaman pengguna” (UX), mungkin dalam pikiran kamu tergambar desain situs web atau aplikasi. Kamu tidak salah, hanya kurang tepat, kamu harus tahu apa Perbedaan UI dan UX terlebih dulu.

UX bukan sekedar pengalaman pengguna saat berada di situs web atau aplikasi. Ia meliputi semua dampak yang diperoleh pengguna sebagai akibat dari interaksi dengan sebuah produk (situs web, aplikasi atau apapun itu). Jika ingin pengguna selalu teringat dan memberi dampak positif, maka kamu harus berpikir melewati desain tampilan (UI).

Pentingnya Merancang UX Sebagai Awal

Tujuan UX adalah membuat interaksi antara manusia – komputer menjadi berarti dan berharga, menghasilkan dampak positif. UX berurusan dengan emosi, bersifat subjektif karena pengguna berbeda memiliki tanggapan berbeda pula. UX yang baik bersifat universal, artinya bermanfaat bagi mayoritas pengguna. Di sinilah UI di tuntut menciptakan UX positif melalui rancangan desain yang efektif.

UI Desainer bernafsu membuat desain produk sehebat mungkin. Memeriksa setiap detail dan kemungkinan, sayangnya terkadang melupakan makna UX sebenarnya. Aspek UX yang membuat pengguna kembali sering dilupakan.

Produk yang terlihat hebat tapi sulit digunakan pertanda UI bagus dan UX buruk. Sementara, produk yang terlihat buruk tapi sangat mudah digunakan pertanda UX bagus dan UI buruk.

UX tidak berwujud, sementara UI berwujud. UX adalah proses brainstorming dan strategi, UI mengubah gagasan menjadi kenyataan yang solid. Produk itu memiliki analisa, data, penelitian, desain visual dan banyak lagi lainnya. Hal terburuk adalah merancang UI dan UX bersamaan, lebih buruk lagi kamu melewati semua proses UX.

Rancang UX dengan Penelitian

Kamu yang bertanggung atas UX harus selalu melakukan penelitian, survei, dan pengamatan untuk mengidentifikasi kebiasaan pengguna. Karenanya, produk dengan UX hebat tidak tercipta dalam satu malam atau langsung sempurna ketika pertama kali diluncurkan.

Dari data penelitian UX, kamu bisa merancang UI sesuai target pengguna. Dan faktor penting adalah UI harus menarik pengguna dan memberikan interaksi sesuai rancangan UX.

Misalnya, kamu mendapati pengguna membenci jendela pop-up, gunakan informasi tersebut untuk membangun UI (misal pop-up) dengan gaya yang pengunjung inginkan. Pada akhirnya menciptakan interaksi yang lebih baik.

Pemasaran (pengenalan) produk adalah proses yang baik untuk mulai merancang UX. Pemasar harus terhubung dengan UX Desainer, mendiskusikan bagaimana keinginan pelanggan mengetahui fitur baru yang akan diberikan. Perlu diketahui bahwa pemasaran adalah bagian dari UX karena dalam prosesnya membentuk bagaimana sebuah produk akan digunakan.

UX mampu menghilangkan hambatan mengapa pengguna enggan beralih dari produk pesaing ke produk yang kamu buat. Pikirkan sesuatu yang mungkin menghentikan pengguna melakukan hal tersebut. Menciptakan produk dengan elemen yang menghancurkan hambatan, mengakibatkan pengguna berduyun-duyun meninggalkan pesaing kamu.

Kekuatan Push Notifications

Push Notifications adalah pemberitahuan yang masuk secara instan pada perangkat pengguna, dikirim secara paksa. Merupakan salah satu elemen UX yang hampir tidak berkaitan dengan UI. Ia memberikan kesempatan bagus untuk mejaga pengalaman dan loyalitas pengguna. Dampak elemen ini sepenuhnya tanggung jawab UX, bisa sebagai pengingat yang berguna … atau sebagai gangguan.

Sekarang kamu tahu bahwa mengirim notifikasi ini perlu strategi untuk mencapai tujuan sebenarnya. Beberapa hal perlu dilakukan antara lain:

  1. Berikan notifikasi yang penting karena pengguna merasa terganggu jika kamu memberikan notifikasi tentang hal-hal kecil.
  2. Sesuaikan isi notifikasi dengan hal-hal yang relevan bagi setiap pengguna. Pastikan juga notifikasi diberikan diwaktu yang tepat.
  3. Buatlah pengguna menguasai dirinya sendiri. Jangan membuat seolah-olah kamu menguasai mereka. Dengan begitu maka notifikasi akan dianggap sebagai aset bukan gangguan.
Gunakan notifikasi dengan bijak dan kreatif untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna, bahkan ketika mereka sedang tidak menggunakan produkmu. Kamu harus tahu kapan waktu yang tepat untuk dilihat oleh pengguna.

Pertimbangkan Aspek UX Sebelum UI

Ada banyak cara mengakusisi pengguna dan memberikan pengalaman tak terlupakan sebelum mereka berinteraksi dengan produk. UX dan UI hubungannya begitu erat, kamu jangan bingung. Meremehkan UX karena UI dianggap lebih nyata dan menarik berdampak tidak baik untuk jangka panjang.
Untuk mencapai pengalaman pengguna yang memuaskan, kamu wajib terlebih dulu merancang UX. Pikirkan bagaimana produk akan berfungsi, bagaimana pengguna akan menggunakannya, dan bagaimana kamu memperoleh pertumbuhan bahkan sebelum produk dilempar kepasar.
UX adalah pondasi, otak di balik semuanya, membuat kamu memahami pengguna lebih dalam lagi.
Sumber gambar, Google.

Tinggalkan Balasan